Home | Suara Bogor | Bima Arya Gagal, Kota Bogor Jadi “Korban”

Bima Arya Gagal, Kota Bogor Jadi “Korban”

Berbicara Kota Bogor saat ini, kita akan menelisik pada lalulintasnya. Kenapa? Karena kondisi lalulintas kota hujan tersebut, semakin sembraut. Kesembrautan lalulintas itu, dipastikan ada sebabnya. Apa penyebabnya? Gagalnya Walikota Bogor yang merupakan pemegang kuasa.

Tidak hanya persoalan macet, masih banyak persoalan lain yang belum bisa diselesaikan Bima Arya sebagai pemangku kuasa selama memimpin Kota Bogor. Tidak kita pungkiri, sebelum Bima Arya menjabat sebagai walikota, persoalan macet di kota ini belum bisa teratasi. Namun macet sebelum Bima Arya menjabat, tidak separah ini.

Yang namanya kota besar, tidak bisa terpisahkan dengan kemacetan. Namun, kemacetan kota besar bisa diatasi oleh walikotanya, apabila bisa mencarikan solusi yang bisa mengatasi persoalan tersebut. Dulu, di Kota Bogor ini, persoalan macet hanya ketemu pada jam tertentu, dan lokasi tertentu pula.

Dimana macet ini ditemui di pusat kota dengan jam sibuk, seperti pagi dan sore hari. Lalu macet ini juga ditemukan ketika berakhir pekan. Berbeda dengan situasi saat ini. Dimana hampir seluruh pelosok jalan ditemukan macet. Antrian dan tumpukan kendaraan tidak bisa dielakan.

Kita akui, usaha Bima Arya dalam mengatasi persoalan kemacetan ini telah ada. Namun, usaha ataupun inovasi yang dilakukan Bima Arya tidak sesuai dengan persoalannya. Ibaratnya, seperti penyakit. Ketika kita sakit perut, namun dikasih obat sakit kepala, bagaimana bisa sembuh. Begitu pula kondisi lalulintas di kota saat ini.

Ada beberapa inovasi yang dilahirkan Bima Arya untuk mengatasi persoalan macet ini. Dari sistem satu arah (SSA), rerourting angkot dan mendirikan perusahaan daerah jasa transportasi (PDJT) dengan armadanya trans Pakuan. Namun usaha yang dilahirkan Bima Arya tersebut, tidak bisa mengatasi kemacetan.

Seluruh inovasi yang dilahirkan Bima Arya tidak melewati proses yang matang. Karena kebijakan yang dilahirkannya menambah persoalan baru. Seperti penertiban pedagang kaki lima (PKL) yang sama-sama kita ketahui korupsi berjamaah kasus angkahong. Lalu gagalnya PDJT dan menimbulkan persoalan baru, tidak adanya karyawan menerima gajinya.

Seluruh inovasi yang dilahirkan Bima Arya selalu berbenturan. Kenapa itu bisa terjadi?. Karena sebelum merealisasikan kebijakan tersebut, terkesan Bima Arya tidak ada melakukan percobaan dan melibatkan orang-orang yang berkompenten di bidangnya.

Alhasil kegagalan Bima Arya menambah beban Kota Bogor dan menyengsarakan masyarakatnya. Untuk itu, mari kita cari dan pilah sosok pemimpin yang layak ataupun bisa menyelesaikan persoalan ini. Jangan sampai kita tergiur dengan iming-iming yang tidak pasti. Dengan realita ini, Bima Arya tidak pantas memimpin Kota Bogor lima tahun kedepan.