Home | Suara Bogor | Bima Arya Lahirkan Inovasi, Kota Bogor Bertambah Macet

Bima Arya Lahirkan Inovasi, Kota Bogor Bertambah Macet

Satu dari lima program prioritas yang dijanjikan Bima Arya pada kampanye jelang menduduki kursi nomor satu di Kota Bogor, adalah persoalan transportasi. Dimana isu transportasi yang tidak lain kemacetan diangkat oleh Bima Arya untuk bisa meloloskan dia duduk di kursi walikota.

Janji politik yang digembor-gemborkannya pada masa kampanye itu, membuat masyarakat Kota Bogor untuk mempercayakan dia memimpin walikota Bogor jelang lima tahun ini. Namun dalam kurun waktu kepemimpinannya, janji politik yang menjadi skala prioritasnya tidak ada membuahkan hasil.

Dimana persoalan macet tidak ada menunjukan perubahan. Malahan yang terjadi sebaliknya, dimana lalulintas kota hujan itu semakin sembraut dan menimbulkan beberapa titik kemacetan yang baru. Persoalan ini menjadi sorotan seluruh elemen masyarakat di kota itu. Salah satunya pengamat transportasi perkotaan, Djoko Setijowarno.

Pengamat tersebut, menilai selama kepemimpinan Bima Arya, tidak ada membuat perubahan ataupun menimalisir titik macet yang selama ini terjadi di beberapa titik jalan di kota tersebut. Diakuinya, Bima Arya telah melakukan beberapa inovasi mengatasi persoalan kemacetan tersebut, namun inovasi tersebut menjadi bumerang dan menimbulkan persoalan baru.

Dia berujar, wajah transportasi Kota Bogor belum berubah. Masih banyak sekali titik kemacetan malah cenderung bertambah.Menurutnya, Bima Arya bisa menyelesaikan persoalan kemacetan dengan seringnya Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo yang sering berkantor di Istana Bogor.

Peluang yang ada tersebut tidak dimanfaatkan Bima Arya, malahan melahirkan beberapa inovasi yang menjadi malapetaka bagi masyarakat Kota Bogor. “Dia bisa saja menyampaikan persoalan tersebut kepada Joko Widodo, terkait kemacetan itu. Kalau Bima Arya memang memperhatikan kotanya dan melepaskan dari jeretan macet,” katanya.

Masih menurutnya, Bima Arya bisa saja meminta bantuan kepada presiden, terkait itu anggaran ataupun solusi lainnya yang mengurangi kemacetan di seluruh jalan. Jangan menahan ego ataupun arogansi, dan yang dirugikan tidak lain adalah masyarakat.

Dari pernyataan pengamat ini, bisa kita simpulkan keseriusan Bima Arya dalam mengatasi persoalan kemacetan tidak sepenuh hati. Dimana beberapa inovasi yang dilahirkannya untuk mengurai kemacetan itu, sarat berbau kepentingan dan menguntungkan beberapa kelompok.

Kita lihat saja, seperti program rerouting angkot, sistem satu arah (SSA) hingga mendirikan perusahaan daerah jasa transportasi (PDJT) yang armadanya Trans Pakuan. Inovasi yang dilahirkannya gagal total. Malahan menimbulkan persoalan baru.

Pada pilkada tahun ini, saya berharap kepada seluruh elemen masyarakat Kota Bogor agar bisa memilih calon pemimpin, dilihat dulu track record calon tersebut, jangan hanya tergoda dengan imbalan uang, dan mengobarkan kota ini. Mudah-mudahan pada pilkada tahun ini, Kota Bogor mendapatkan pemimpin yang baru, yang bisa menyelesaikan persoalan Kota Bogor.