Home | Suara Bogor | Janjikan Atasi Macet, Bima Arya Kecewakan Masyarakat Kota Bogor

Janjikan Atasi Macet, Bima Arya Kecewakan Masyarakat Kota Bogor

Kilas balik pada pilkada empat tahun lalu, Bima Arya yang menjadi calon Walikota Bogor kala itu, dengan berapi-apinya akan mengatasi persoalan macet di kota hujan itu. Kala itu, Kota Bogor belum mengalami kemacetan yang terlalu parah seperti saat ini. Menanggapi janji Bima Arya pada masa kampanye, warga pun memilihnya untuk menyelesaikan persoalan macet.

Resmi dilantik, Bima Arya langsung action untuk mengatasi persoalan kemacetan di Kota Bogor. Gerak nyata Bima Arya itu, disambut bahagia seluruh warga kota. Dimana, pada saat itu, menjanjikan persoalan ini bisa diatasi tanpa ada mengorbankan para warga. Lalu lahirlah inovasi Bima Arya untuk mengatasi kemacetan di kota yang dipimpinnya.

Bima Arya pada saat itu memandang persoalan macet disebabkan oleh angkutan kota (Angkot). Lalu, Bima Arya melakukan pembatasan (rerouting) terhadap angkot. Bima Arya langsung merealisasikan program tersebut, sehingga seluruh angkot di KOta Bogor tidak boleh berada di pusat kota.

Bima Arya mengalihkan seluruh angkot pada pinggiran kota. Namun, inovasi yang dianggap benar pada saat itu, tidak ada membuahkan hasil. Persoalan macet tetap saja ditemukan oleh seluruh pengguna jalan. Warga pun mengeluh. Bima Arya pun kembali mengeluarkan kebijakan baru. Jumlah angkot di kota itu dibatasi dan diberlakukan shift. Dimana, pemilik angkot yang lebih memiliki tiga unit kendaraan, dijadikan satu bus.

Pada program tersebut, tiga angkot digantikan dengan satu unit bus. Lalu, program tersebut berjalan sesuai dengan komando Bima Arya. Dalam perjalanan, program tersebut juga tidak ada membuat perubahan terhadap macet. Malahan macet berkembang di beberapa titik jalanan Kota Bogor. Tidak puas, Bima Arya kembali melahirkan kebijakan baru.

Bima Arya mengeluarkan kebijakan baru, dimana titik yang dianggap rawan macet, diberlakukan sistem satu arah (SSA). Sama dengan hasil sebelumnya, persoalan macet tetap saja tidak berhasil diurai. Malahan, jalanan yang belum pernah terjadi macet, malahan mendapat bagian macet yang sebelumnya berada di pusat kota.

Lalu Bima Arya mendirikan perusahaan daerah jasa transportasi (PDJT). Dimana PDJT ini bergerak dan fokus pada pengembangan kendaraan massal. Tiga tahun berdirinya perusahaan tersebut, malahan mengalami kerugian. Akibatnya seluruh karyawan tidak mendapatkan gaji.

Dari seluruh inovasi yang dilahirkan Bima Arya tidak ada membuat perubahan pada lalulintas Kota Bogor. Warga pun kecewa. Karena Bima Arya menjanjikan pada seluruh warga bisa mengatasi kemacetan itu. Kekecewaan itu diperparah, jelang habisnya masa jabatannya, Bima Arya tidak juga melakukan penyelesaian salah satu program unggulan ataupun janji politiknya.