Home | Suara Bogor | Kepemimpinan Bima Arya, Kota Bogor Belum Bisa Bebas Macet

Kepemimpinan Bima Arya, Kota Bogor Belum Bisa Bebas Macet

Kemacetan bukan hanya dialami oleh Ibu Kota Indonesia Jakarta, akan tetapi saat ini di gadang-gadang bahwa Kota Bogor pun menduduki peringkat pertama sebagai Kota macet. Pagi, siang dan malam, masyarakat selalu merasakan macet.

Apalagi, disaat akhir pekan, Kota Bogor macetnya semakin bertambah. Minimnya pelebaran jalan, pedagang kaki lima (PKL) merajalela, parkir liar bertebaran sembarang tempat, angkot yang terlalu banyak, disinyalir menjadi penyebab macet di kota itu.

Kemacetan memang tidak terhindarkan. Kota Hujan ini dirasakan oleh para penghuninya menjadi sebuah tempat yang sama sekali tidak nyaman untuk berlalu lintas setiap harinya. Titik kemacetan hampir ada di setiap penjuru kota yang tidak luas ini.

Walaupun penyebab macet yang terjadi di Kota Bogor telah teridentifikasi, masyarakat belum dirasakan adanya upaya maksimal dari walikotanya yang sudah menjabat empat tahun untuk mengurangi kemacetan. Bima Arya memang sudah membuat berbagai kebijakan namun kebijakan itu tak membuahkan hasil.

Bima Arya yang mengendalikan pemerintahan kota, belum bisa melakukan penertiban maupun penataan PKL yang ada di sepanjang jalan kota itu. Tak hanya di atas trotoar, PKL juga sudah menggunakan badan jalan untuk berjualan. Dampaknya sudah pasti akan mengganggu lalu lintas.

Tidak adanya ketegasan maupun solusi yang diberikan oleh Bima Arya, membuat pemerintah dan PKL main kucing-kucingan. Saat ada penertiban, para PKL tidak berjualan, dan disaat tidak ada petugas disana, PKL kembali berjualan. Itulah yang terus menerus terjadi di Kota Bogor.

Padahal, Pemkot Bogor bisa menerapkan aturan yang ada di daerahnya. Tentu dengan pendekatan-pendekatan yang persuasif, tanpa membuat mereka menjadi pengangguran. Kebijakan untuk merelokasi para PKL sudah seharusnya diterapkan, sehingga para PKL bisa teroganisir dengan baik.

Begitu juga dengan pelebaran jalan, di pusat kota sudah tidak mungkin lagi dilakukan. Tapi, dengan membuat jalan layang (fly over) di beberapa ruas jalan yang rawan macet, tentu bisa menjadi solusi mengatasi macet. Tapi, pembangunannya selalu terkendala, dan mangkrak.

Tak hanya itu saja, penataan angkot yang menjadi salah satu penyebab kemacetan, hingga kini belum dilakukan secara maksimal. Reformasi angkot menjadi transportasi massal padahal sudah seharusnya dilakukan oleh Pemkot Bogor, sehingga kedepan pusat kota sudah tidak ada lagi angkot, dan pasti macet akak bisa dikurangi.