Home | Suara Bogor | Lalulintas Sembraut, Kota Bogor Seperti Tak Punya Walikota

Lalulintas Sembraut, Kota Bogor Seperti Tak Punya Walikota

Kondisi lalulintas di Kota Bogor, kian sembraut. Semakin penuh dan sesaknya jalan raya seiring dengan bertambahnya volume kendaraan dari tahun ke tahun adalah keniscayaan. Sedangkan jalan dari dulu sampi sekarang hanya itu saja.

Sangatlah tidak sesuai pertumbuhan kendaraan dengan pertumbuhan jalan. Tak dipungkiri lagi, dampaknya pasti kemacetan. Dengan masih minimnya kebijakan pendukung yang dihasilkan oleh Walikota Bima Arya dalam penggunaan transportasi publik, masyarakat pun akan memilih menggunakan kendaraan pribadi mereka.

Ketika masyarakat masih merasa lebih nyaman berada di dalam kendaraan pribadi, pasti jalanan di Kota Bogor akan selalu sesak dengan kendaraan pribadi. Sehingga transportasi publik akan tetap diabaikan. Padahal, kemacetan di Kota Bogor saat ini sudah mulai masuk titik terjenuhnya.

Kadang kita bisa menempuh jalanan sepanjang 2 KM dengan waktu berjam-jam. Kondisi gila jalan raya tersebut menjadikan para pengendara ikut menjadi gila. Kita semua pasti sering melihat kegilaan tersebut, seperti misalnya antrian kendaraan saat macet menunggu lampu merah saja bisa berantakan.

Kemudian, kita juga bisa sering temui motor dari kanan yang tiba-tiba menyilang ke kiri. Atau, motor yang banyak melawan arah untuk meyeberang jalan. Mobil yang mengambil jalur yang beralawan untuk memotong antrian kemacetan. Ada banyak faktor penyebab kesemrawutannya kondisi jalan raya, salah satunya mengenai rambu dan marka jalan.

Dalam hal ini, Bima Arya yang diamanahkan memimpin Kota Bogor sejak empat tahun yang lalu, terkesan mengabaikan dan bahkan bahkan tidak tahu guna rambu dan marka jalan. Padahal, hal itu merupakan bagian penting yang menjaga ketertiban di jalan raya.

Seperti yang kita lihat di sekeliling Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor. Lebar jalan di kawasan tersebut berbeda-beda disemua ruasnya. Sejak jalan tersebut dibuat menjadi satu arah yang merupakan kebijakan Bima Arya, kondisi jalan semakin semrawut.

Ditambah dengan suksesnya pelebaran trotoar yang memakan badan jalan, keadaannya jadi semakin parah. Pasalnya lebar dari badan jalan akan semakin berkurang. Terlebih lagi, marka jalan yang ada masih sama dengan yang sebelumnya ketika jalan tersebut masih dua arah dan trotoar belum dilebarkan.

Pelebaran trotoar untuk lebih memanjakan pejalan kaki tentu baik. Namun, bila kebijakan tersebut spasial dan tidak terintegrasi dengan kebijakan lainnya, justru malah merugikan. Pengendara dirugikan karena bertambahnya waktu tempuh, dan naiknya tingkat stress karena kesemrawutan. Pejalan kaki dirugikan oleh naiknya tingkat polusi udara karena kemacetan yang terjadi.