Home | Suara Bogor | Masyarakat Keluhkan Macet, Bima Arya Tidak Bisa Carikan Solusi

Masyarakat Keluhkan Macet, Bima Arya Tidak Bisa Carikan Solusi

Masyarakat Kota Bogor sudah tidak terpisahkan lagi dengan yang namanya kemacetan lalu lintas. Setiap hari masyarakat merasakan lelahnya terjebak macet di jalanan kota yang dikenal dengan julukan Kota Hujan itu. Pilkiran, tenaga, terkuras oleh macet yang tidak bisa dihindari lagi.

Terlebih di jam-jam sibuk pagi dan sore. Kendaraan mengular di ruas jalan pusat kota. Keluhan itulah yang masih dirasakan oleh masyarakatnya. Mau berangkat kerja macet, mau berangkat sekolah macet, mau pulang juga macet. Masyarakat cuma bisa mendesak dan melontarkan keluhannya, baik secara langsung maupun bekeluh kesah melalui media sosial.

Namun, yang bisa mengabulkan impian masyarakat untuk merasakan nyamannya tinggal di kota itu tanpa macet, hanya ada di tangan walikotanya, sebagai pembuat kebijakan. Tapi, walikota yang setiap lima tahun silih berganti, sampai di tangan Bima Arya yang namanya Kota Bogor masih tetap macet.

Lantas apa saja yang dilakukan Bima Arya selaku walikotanya hingga persoalan macet tak kunjung bisa diselesaikan. Masyarakat sudah kenal dengan Sistem Satu Arah yang diterapkan oleh Bima Arya. Tapi kebijakan itu malah menambah titik macet, dan merambat ke jalan-jalan lain yang tidak biasa terkena macet.

Ditambah lagi, dengan kebijakan membuat angkot sistem shif, dan perubahan trayek angkot yang penerapannya hanya setengah-setengah saja, juga belum efektif mengatasi macet. Memang, banyaknya angkot salah satu penyebab kemacetan, namun haruskah angkot yang dijadikan tumbal?. Sudah pasti, sejak diberlakukannya kebijakan itu, pendapatan sopir angkot mengalami penurunan.

Dampaknya, sopir angkot malah menjadi ugal-ugalan di jalanan mengejar setoran. Bukannya Bima Arya bisa mengatasi persoalan, tetapi malah menimbulkan persolan baru. Tak hanya itu saja, Bima Arya juga membuat kebijakan untuk mengkonversi 3 angkot menjadi 1 bus, yang tujuannya untuk mengurangi jumlah angkot.

Akankah kebijakan itu bisa membuat Kota Bogor menjadi bebas macet?. Sudah dipastikan tidak. Hal itu dikarenakan jumlah angkot tidak lah sebanding dengan kendaraan pribadi yang memadati jalan di kota itu. Kendaraan pribadi lebih dari 70 persen, dan setiap tahun jumlah kendaraan meningkat hingga 17 persen.

Dengan kondisi yang seperti itu, Bima Arya sudah dapat dikatakan gagal menjalankan jabatannya untuk bisa membuat Kota Bogor menjadi mini kemacetan. Padahal, sebagai pemimpin seharusnya Bima Arya mampu memberikan solusi atas apa yang menjadi keluhan masyarakat.