Home | Suara Bogor | Soal Angkot, Bima Arya Belum Berhasil Mengatasinya

Soal Angkot, Bima Arya Belum Berhasil Mengatasinya

Beberapa waktu lalu, di masa kepemimpinan Walikota Bima Arya, Kota Bogor pernah dinobatkan sebagai kota termacet kedua di dunia versi Waze. Lantas apakah setelah dinobatkan sebagai kota termacet, Bima Arya bisa merubah Kota Bogor menjadi minim dari kemacetan?

Empat tahun menjabat sebagai walikota, Bima Arya belum bisa mewujudkan impian masyarakat menjadikan Kota Bogor bagi masyarakatnya. Pasalnya, setiap hari, masyarakat selalu mengeluhkan kemacetan yang terjadi di ruas jalan pusat kota dan bahkan kini macet sudah merebak ke pinggiran kota.

Dulu, jika terjadi kemacetan di jalan protokol, masyarakat masih bisa memilih jalur alternatif lain, tapi saat ini jalur alternatif itu juga sudah ikut-ikutan macet. Dengan kondisi begitu, sudah sepantasnya Kota Bogor meraih prestasi sebagai kota termacet, pasalnya macet yang terjadi di Kota Bogor sudah hampir merata.

Dari hasil analisa berbagai pihak, salah satu yang menjadi penyebab Kota Bogor selalu macet, disebabkan oleh jumlah angkot yang terlalu banyak beroperasi di kota itu. Apalagi, Kota Bogor juga dijuluki sebagai kota seribu angkot.

Memang tidak dapat dipungkiri, banyaknya jumlah angkot, selalu mengikuti jumlah penduduknya. Namun, di era saat ini masyarakat sepertinya sudah tidak terlalu membutuhkan jasa angkot. Hal itu disebabkan sudah adanya transportasi berbasis online yang layanannya jauh lebih baik dari pada angkot, dan juga neningkatnya daya beli masyarakat terhadap kendaraan pribadi.

Dengan menurunnya minat masyarakat kota untuk menggunakan angkot, membuat angkot lebih ngetem di jalan, berhenti di sembarang tempat menungu penumpang, sehingga akan semakin banyak juga terminal bayangan. Dampaknya sudah pasti akan mengganggu lalu lintas dan macet akan terus terjadi.

Melihat fenomena persoalan angkot itu, Bima Arya yang diberikan kewenangan untuk mengurus daerah kekuasaanya, sudah harus membuat inovasi dan kebijakan yang bisa menyelamatkan masyarakat dari kemacetan. Padahal, sebagai kota yang berkembang, angkot sudah tidak efektif lagi berada di tengah kota.

Sejauh ini, selama menjabat sebagai walikota, Bima Arya masih belum berhasil mengatasi permasalahan angkot.Padahal pada saat kampanye dulu, Bima Arya sudah berjanji kepada masyarakat, akan menyelesaikan persoalan transportasi publik dan bahkan sudah dimasukkan dalam
program kerja yang menjadi prioritasnya. Namun, nyatanya persoalan angkot masih saja belum terselesaikan.

Sejauh ini, adapun kebijakan yang sudah berjalan adalah pembatasan jumlah angkot yang beroperasi dengan sistem shift. Untuk jangka pendek, kebijakan itu bisa dibilang efektif, namun kebijakan tersebut tidak menyelesaikan masalah dalam jangka panjang. Begitu juga dengan rencana konversi tiga angkot menjadi satu bus, hingga kini juga belum terealisasi.